CITRAAN DAN FUNGSI PUITIK DALAM PUISI INDONESIA MODERN – Arifin M.Z.

16 06 2011

A. Latar Belakang
Puisi adalah suatu karya sastra yang dapat dianalisis dari berbagai macam sudut pandang, mulai dari ekspresi, bunyi, diksi, citraan, bahasa kias, dan lain-lain. Dengan memahami dari berbagai sudut pandang tersebut, akan ditemukan fungsi puitik daripada puisi yang dibaca.
Dalam makalah ini akan dibahas mengenai citraan dan fungsi puitik dalam puisi modern. Citraan adalah salah satu unsur puisi yang erat kaitannya dengan bahasa kias, diksi, dan sarana retorik. Oleh karena itu akan tercipta unsur estetika dalam puisi dan dapat mencapai fungsi puitik dalam puisi tersebut.

B. Tujuan
1. Sebagai tugas pengganti ujian akhir semester gasal tahun ajaran 2010/2011.
2. Sebagai sarana meningkatkan pemahaman dalam memandang puisi dari berbagai sudut pandang.
3. Sebagai sarana meningkatkan apresiasi terhadap keberadaan karya sastra berbentuk puisi.

C. PEMBAHASAN
Citraan merupakan gambaran-gambaran angan dalam puisi yang ditimbulkan melalui kata-kata (Pradopo, 1987). Citraan digambarkan melalui kiasan-kiasan yang merupakan suatu bentuk keindahan dalam bahasa.
Dalam pembangunan citraan, setiap penyair menggunakan sumber yang berbeda-beda namun sejalan dengan pesan yang ingin disampaikan. Ada citraan yang sesuai dengan indera yang menghasilkannya. Citraan tersebut antara lain citraan penglihatan (visual), citraan pendengaran (auditif), citraan rabaan (termal), citraan pencecapan, citraan penciuman, dan citraan gerak (kinestetik). Berbagai citraan tersebut akan mengantarkan gambaran dalam puisi. Selain itu, ada pula yang bersumber dari bidang keagamaan, alam, filsafat, kehidupan sehari-hari, cerita, mitos, dan legenda yang semuanya diringkas dalam tiga hal, yakni kehidupan individual, sosial, dan keagamaan.
Dalam hubungannya dengan fungsi puitik dalam puisi, citraan mengantarkan pesan dari penulis agar dapat merasakan apa yang dirasakan oleh indera penulis yang tertuang dalam puisinya. Dengan citraan, pembaca maupun pendengar dapat mengindera puisi dengan pemahaman masing-masing.
Cermati puisi Jamal D. Rahman berikut ini.
Di Timur Fajar Tak Terbit Lagi
matahari melelehkan jiwaku
tumpah di tebing di jurang gelombang
aku lupa memandang langit
aku lupa memandang laut
ke mana matahari seterik itu pergi
di barat peraduan menanti
di timur fajar tak terbit lagi
(dari: Reruntuhan Cahaya, hlm. 3)
Dalam puisi tersebut terdapat citra penglihatan (visual) yang tampak menggambarkan seseorang yang memandangi langit mencari-cari matahari. Dalam puisi ini pembaca diajak melihat keadaa langit yang kehilangan matahari. Dari segi lain misalnya keagamaan, dapat diilhami pesan yang ada dalam puisi itu menyiratkan akan kelalaian manusia terhadap Yang Kuasa dan datangnya saat dimana matahari tak terbit lagi.
Citraan penglihatan juga terdapat dalam puisi Taufiq Ismail berikut ini.
Sajadah Panjang

Ada sajadah panjang terbentang
Dari kaki buaian
Sampai ke tepi kuburan hamba
Kuburan hamba bila mati

Ada sajadah panjang terbentang
Hamba tunduk dan sujud
Di atas sajadah yang panjang ini

Diselingi sekedar interupsi
Mencari rezeki, mencari ilmu
Mengukur jalan seharian
Begitu terdengar suara azan
Kembali tersungkur hamba

Ada sajadah panjang terbentang
Hamba tunduk dan rukuk
Hamba sujud dan tak lepas kening hamba
Mengingat Dikau
Sepenuhnya

(dari: MAJOI, hlm. 121)

Kemudian, citraan pendengaran (auditif) terasa dalam puisi yang ditulis oleh Chairil Anwar yang berjudul Buat Album D.S. Berdasarkan pembentukan kata dalam puisi ini, penyair telah membentuk citra pendengaran yang mengantarkan pembaca turut mendengar suara nyanyian seorang gadis.
Buat Album D.S.
Seorang gadis lagi menyanyi
Lagu derita di pantai yang jauh
Kelasi bersendiri di laut biru, dari
Mereka yang sudah lupa bersuka
Suaranya pergi terus meninggi
Kami yang mendengar melihat senja
Mencium belai si gadis dari pipi
Dan gaun putihnya sebagian dari mimpi
Kami rasa bahagia tentu ‘kan tiba,
Kelasi mendapat dekapan di pelabuhan
Dan di negeri kelabu yang terhiba
Penduduknya bersinar lagi, dapat tujuan
Lagu merdu! apa mengertikah adikku kecil
yang menangis mengiris hati
Bahwa pelarian akan terus tinggal terpencil,
Juga di negeri jauh itu surya tak kembali?
(dari: Aku Ini Binatang Jalang, hlm. 54)

Citraan merupakan salah satu dari sekian banyak teknik penikmatan puisi yang di dalamnya mengandung unsur yang dapat memaksimalkan efek indera dalam diri penyair dan mengembangkannya dalam diri pembaca melalui bahasa pilihan. Melalui permainan bunyi dan berbagai gaya bahasa yang ada, akan terbentuk makna atau suasana tertentu yang menyebabkan terangsangnya indera untuk menangkapnya.
Mari kita rasakan citraan puisi yang mencakup aspek keagamaan sekaligus aspek kehidupan sosial sehari-hari dalam puisi yang ditulis oleh Dr. Fridolin Ukur berikut.
Wajah di Antara Cemara-cemara
Telah kami kisahkan
cerita lama yang tak pernah usang,
telah kami lagukan
madah tua yang tetap muda,
telah kami bacakan
puisi kuno yang tetap baru
tentang fajar datang membelah malah;
ketika bumi dan sorga menyatu dalam cinta
mengoyak noda terbujur di antaranya
membakar hangus sarang cemburu
dan gubuk nestapa asuhan dosa;
membuat lenguh tua renta
ratap insan berjuta tahun
yang menyayat menyengat
mengisi hari-hari panjang
dan malam-malam dalam,
kini berganti dengan nyanyi!
Malam pun berganti memanjang
mimpi-mimpi luka
Malam tak lagi mencekam menikam
dosa nafsu tak perlu bersekutu lagi
karena di rahim kudus malam ini
yang maha tinggi datang dalam keakraban
di diri anak bayi
terlempar di sudut kandang
menggelepar dalam palungan!
Itulah wajah di antara cemara-cemara
anggun syahdu
membawa cinta sejuta bunga
memberi makna bagi hidup ini!
(dari: Wajah Cinta, hlm 118)
Dalam puisi tersebut disuguhkan pula berbagai citraan, seperti citraan visual, rabaan, pendengaran, sehingga pembaca dapat turut menikmati suasana syahdu dalam puisi tersebut. Sebuah suasana keagamaan yang sarat akan makna kehidupan. Begitu pula dalam puisi Joko Pinurbo yang berjudul Pesan dari Ayah. Dalam puisi ini juga sarat akan makna kehidupan yang digambarkan melalui citra kehidupan sehari-hari dalam sebuah keluarga.

Pesan dari Ayah
Datang menjelang petang, aku tercengang melihat
Ayah sedang berduaan dengan telepon genggam
di bawah pohon sawo di belakang rumah.
Ibu yang membelikan Ayah telepon genggam
sebab Ibu tak tahan melihat kekasihnya kesepian.

“Jangan ganggu suamiku,” Ibu cepat-cepat
meraih tanganku. “Sudah dua hari ayahmu belajar
menulis dan mengirim pesan untuk Ibu.
Kasihan dia, sepanjang hidup berjuang melulu.”

Ketika pamit hendak kembali ke Jakarta,
aku sempat mohon kepada Ayah dan Bunda
agar sering-sering telepon atau kirim pesan, sekadar
mengabarkan keadaan, supaya pikiranku tenang.

Ayah memenuhi janjinya. Pada suatu tengah-malam
telepon genggamku terkejut mendapat kiriman
pesan dari Ayah, bunyinya: “Sepi makin modern.”

Langsung kubalas: “Lagi ngapain?” Disambung:
“Lagi berduaan dengan ibumu di bawah pohon sawo
di belakang rumah. Bertiga dengan bulan.
Berempat dengan telepon genggam. Balas!”

Kubalas dengan ingatan: di bawah pohon sawo itu
puisi pertamaku lahir. Di sana aku belajar menulis
hingga jauh malam sampai tertidur kedinginan,
lalu Ayah membopong tubuhku yang masih lugu
dan membaringkannya di ranjang Ibu.

(dari:Kepada Cium, hlm. 3)

D. Kesimpulan
Dalam puisi terdapat banyak unsur, salah satunya adalah citraan. Citraan merupakan sarana berpikir yang terdapat dalam puisi. Citraan merupakan satu dari sekian banyak teknik ekspresi puitik yang digunakan untuk mengoptimalkan efek pengukuhan pengalaman indera dalam diri penyair dan membangkitkannya dalam diri pembaca, melalui bahasa tulisan.
Melalui gambaran-gambaran yang timbul dalam puisi yang timbul oleh citraan, akan tercapai fungsi puitik puisi yakni tersampaikannya pesan atau makna puisi tersebut pada pembaca. Oleh karena itu pembaca dapat memaknai puisi yang dibacanya secara optimal melalui indera yang mereka punyai.

Advertisements

Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: